Jumat, 13 Desember 2013

Hal Negatif Kerja Lembur

Hal Negatif Kerja Lembur

Kerja lembur adalah pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan, atas dasar perintah atasan, yang melebihi jam kerja biasa pada hari-hari kerja, atau pekerjaan yang dilakukan pada hari istirahat mingguan karyawan atau hari libur resmi.
Prinsip kerja lembur pada dasarnya bersifat sukarela, kecuali dalam kondisi tertentu pekerjaan harus segera diselesaikan untuk kepentingan perusahaan.

Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa pekerja yang bekerja lebih dari 50 jam dalam seminggu menderita penurunan kesehatan mental dan fisik.
Pada penelitian tersebut ditemukan bahwa para workaholic, yang bekerja lebih dari 50 jam per minggu, cenderung untuk mengalami penurunan kesehatan fisik, diukur dengan mengabaikan makan.

Penelitian ini juga menemukan bahwa workaholism ikut terkait dengan penurunan kesehatan mental yang diukur dengan suatu nilai depresi yang dilaporkan oleh para peserta penelitian.

Masalah ini menjadi kompleks ketika melihat alasan pekerja memilih untuk kerja lembur. Asebedo dan rekan-rekan penelitiannya sesama mahasiswa doktoral Sonya Britt and Jamie Blue mencoba menjelaskan mengapa para pekerja mungkin bekerja terlalu banyak dengan melihat teori Alokasi Waktu dari Gary Becker.

“Teori ini menunjukkan bahwa semakin banyak uang yang Anda hasilkan, semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk bekerja,” tutur Asebedo. “Ini menunjukkan bahwa biaya dari waktu seolah-olah merupakan hal yang baik.” Jika Anda tidak terikat dengan akktivitas terkait pekerjaan, maka akan ada biaya alternatif dari waktu yang diluangkan tersebut.

Bahkan jika Anda memahami konsekuensi negatif dengan menjadi workaholism, Anda mungkin tetap terus bekerja karena merasa ‘biaya’ dengan tidak melakukannya justru akan lebih besar.

Sekali pekerja mulai berpikir seperti itu, mereka berisiko menjadi korban dampak negatif dari kerja lembur bagi kesehatan mereka. Untuk membantu mengurangi perasaan itu, pekerja harus memahami keterbatasan mereka dalam bekerja. Selain itu para pekerja juga harus memahami pentingnya peran ‘bermain’ dalam kehidupan pribadi mereka.

Workaholic adalah orang yang kecanduan untuk bekerja. Istilah ini umumnya menyiratkan bahwa orang yang menikmati pekerjaan mereka, juga bisa berarti bahwa mereka hanya merasa terdorong untuk melakukannya. Tidak ada definisi medis yang berlaku umum dari kondisi seperti ini, meskipun beberapa bentuk stres , gangguan kepribadian obsesif-kompulsif dan gangguan obsesif-kompulsif dapat bekerja-terkait.
Gila kerja tidak sama dengan bekerja keras.
Kata itu sendiri adalah kata portmanteau terdiri dari pekerjaan dan alkohol . Menurut William Safire , istilah ini diciptakan oleh Wayne Oates pada tahun 1968.  Istilah diperoleh digunakan secara luas pada 1990-an, sebagai hasil dari gelombang swadaya gerakan yang berpusat pada kecanduan , membentuk suatu analogi antara perilaku berbahaya sosial seperti over-kerja dan kecanduan obat , termasuk kecanduan alkohol.

Bekerja secara shift picu kanker dan diabetes
Bekerja dengan pergantian shift sebenarnya banyak diterapkan oleh perusahaan di Indonesia. Kebiasaan ini terlihat tak merugikan dan bisa dijalani dengan baik. Namun sebenarnya sistem kerja shift bisa membawa dampak buruk untuk kesehatan, seperti ditemukan oleh penelitian terbaru.

Penelitian terbaru mengungkap bahwa sistem kerja shift bisa menyebabkan kerusakan pada 1.500 gen pada tubuh dan memicu berbagai masalah kesehatan. Hal ini karena bekerja secara shift akan mengganggu siklus tubuh selama 24 jam dan mengganggu ritme gen.

Hasil ini didapatkan peneliti setelah mengamati 22 partisipan selama 28 jam. Mereka menemukan bahwa siklus tidur menjadi tertunda selama empat jam setiap hari hingga siklus tubuh mereka berantakan dan melenceng 12 jam jauhnya dari siklus normal. Setelah melakukan tes darah diketahui bahwa partisipan mengalami kerusakan gen dan pengurangan gen hingga enam kali lipat.

Manusia memiliki sekitar 24.000 gen, 1.400 di antaranya sangat rentan terpengaruh oleh kebiasaan tidur manusia. Tidur yang terganggu akan merusak gen tersebut dan menyebabkan berbagai macam masalah kesehatan, mulai dari diabetes hingga kanker.

Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian lain yang menunjukkan bahwa bekerja secara shift di malam hari bisa meningkatkan risiko penyakit jantung, kesehatan mental, kanker, depresi, diabetes, obesitas, dan stroke sebanyak tiga kali lipat.

Peneliti berencana untuk melakukan penelitian lanjutan dalam skala lebih besar, namun mereka kesulitan karena harus mengambil sample darah dari banyak orang selama jam-jam tertentu. Meski begitu peneliti berharap hasil ini menjadi batu loncatan untuk penelitian di masa depan.



dari berbagai sumber

0 Komentar:

Posting Komentar

[Reply to comment]