Tampilkan postingan dengan label Ibu dan Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibu dan Anak. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Desember 2014

Mengajari Pola Makan Anak Yang Sehat

Mengajari Pola Makan Anak Yang Sehat


Pola makan seorang anak akan dapat dibentuk jika diajarkan sejak dini oleh orangtua. Hanya orangtualah yang dapat membesarkan anak-anaknya agar mereka dapat menjadi pemakan makanan yang sehat.
Mendidik anak untuk membiasakan makan sehat dapat menjadi cukup sulit bila mereka sudah kenal makan-makanan yang kurang sehat, seperti junk food. Kalau sudah begitu, mereka justru membenci makanan-makanan yang seharusnya menjadi yang paling sehat. Mereka hanya mencintai makanan berkategori  junk food.
Meskipun tugas membesarkan anak menjadi pemakan yang sehat dapat sedikit menyulitkan, tapi Anda pasti bisa membuat mereka belajar kebiasaan makan yang sehat jika Anda mengikuti langkah-langkah mudah berikut sebagaimana dilansir Boldsky.

Goda dengan sajian menarik
Tak banyak anak yang menyukai sayuran. Tugas ibu adalah membuat penampilan sayuran di atas meja hidang tampak cantik dan menyenangkan bagi anak.
Anda tetap dapat memasak hidangan lezat dengan sayuran biasa tapi menghiasnya dengan cara yang bagus atau taruh mereka dalam mangkuk menarik. Sebagai contoh, Anda dapat membentuk wajah boneka beruang dengan krim di setiap hidangan atau mungkin memotong sayuran dalam bentuk smiley sehingga anak Anda menyukainya.
Dan jika anak Anda tidak suka makan buah, Anda dapat sajikan buah-buahan tersebut ke dalam semangkuk es krim atau yogurt. Percayalah mereka akan lebih menyukainya. Pilih makanan sehat yang akan memberikan nutrisi untuknya.

Khususkan waktu untuk ngemil
Anak-anak suka sekali mengunyah makanan apa pun yang mereka temukan sebelum mereka benar-benar merasa lapar. Terutama jika itu adalah junk food.
Ini menjadi sangat sulit untuk membesarkan anak-anak menjadi pemakan sehat dalam kasus tersebut. Tetapi tidak ada alasan untuk khawatir lagi.
Mengapa Anda tidak menaruh sebuah apel di atas meja mereka sehingga setiap kali mereka lapar mereka bisa menggigit buah tersebut. Juga simpan semua jenis buah-buahan, jus dan hidangan favorit mereka dalam jangkauan, seperti dalam lemari es atau di dapur.
Baiknya Anda tidak menyediakan makanan cemilan tak sehat seperti makanan ringan yang dijual di pasaran. Dengan demikian Anda dapat membesarkan anak-anak Anda untuk menjadi pemakan sehat.

Beri contoh
Sebelum Anda membesarkan anak-anak Anda menjadi pemakan sehat, Anda harus terlebih dahulu memberikan contoh kepada mereka. Tunjukkan bahwa Anda tetap mengunyah buah-buahan setiap kali Anda punya waktu.
Anak-anak senang meniru kebiasaan orangtua mereka, baik itu baik atau buruk. Jadi cobalah untuk hidup dengan makanan sehat sehingga anak Anda belajar melakukan hal yang sama dan tumbuh menjadi pemakan sehat.


Beri kebebasan di hari libur
Baiknya Anda tidak melarangnya anak sama sekali untuk mengasup junk food atau pun fast food. Pasalnya, semakin Anda membatasinya, mereka cenderung akan melakukan sesuatu yang lebih.
Jadi, ajak mereka pergi keluar pada hari libur dan biarkan mereka memilih untuk makan apa yang pernah mereka inginkan. Anda hanya dapat mengatur proporsi dan memberitahu mereka apa yang benar untuk dikonsumsi dan apa yang tidak.











Islampos

Jumat, 05 Desember 2014

Mencegah Penyakit Jantung Sejak Dini Melalui Pola Makan

 Mencegah Penyakit Jantung Sejak Dini Melalui Pola Makan
 
Penyakit jantung bisa menyerang siapa saja, baik anak-anak ataupun dewasa. Salah satu hal yang dapat mempengaruhi adalah pola makan.
Bukan hanya pola makan saat dewasa. Namun pola makan anak usia pra sekolah (3-5 tahun) pun berkontribusi terhadap level serum kolesterol non-high-density lipoprotein (HDL) yang merupakan penanda resiko penyakit jantung.
Padahal masih banyak masyarakat yang bangga saat melihat anak mereka tumbuh gemuk, bahkan obesitas. Cukup banyak yang beranggapan bahwa gemuknya anak kecil itu sehat karena dalam masa pertumbuhan. Akibatnya, tidak banyak orang tua yang cukup bijak mengkontrol pola makan anak.
Pencegahan penyakit jantung koroner dapat dilakukan dengan membiasakan pola hidup dan makan yang sehat sejak kecil, hindari makanan dengan tinggi lemak jenuh, kolesterol LDL, garam dan gula berlebih.
 
Lalu bagaimana mengatur pola makan yang sehat untuk anak?
Berikut ulasan tipsnya :
  • Sejak kecil kenalkan beragam jenis makanan dari sumber karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral, agar asupan gizinya lengkap. Selain itu usahakan memperkenalkan keberagaman sumber karbohidrat. Tidak hanya melulu dari nasi, tapi bisa dari jagung, gandum, umbi-umbian dan lain sebagainya.
  • Berikan porsi makan sesuai kebutuhan gizi anak menurut usia, berat badan, dan aktivitasnya. Misal anak usia 1 tahun dengan berat badan 12 kg, idealnya kebutuhan energi yang dibutuhkan 1100-1300 kkal/hari. Enrgi ini dapat diperoleh dari nasi 2-2 porsi atau dari sumber karbohidrat lain, protein hewani 1 porsi, protein nabati 1 porsi, sayur dan buah 2 porsi atau lebih. Bila anak termasuk status gizi kurang, maka asupan gizinya perlu ditingkatkan. Namun bila mengalami status gizi berlebih (overweight, obese) maka aktifitas geraknya perlu ditingkatkan.
  • Perbanyak konsumsi sayuran dan buah yang kaya serat dan antioksidan untuk menangkal radikal bebas. Selain itu juga untuk memenuhi kebutuhan vitamin tubuh.
  • Kurangi mengolah makanan dengan cara digoreng. Makanan yang digoreng akan cenderung mengandung radikal bebas dari minyak yang dipanasakan. Selain itu, pada suhu penggorengan yangtinggi, yakni sekitar 180 derajat Celsius, akan terbentuk akrilamida, yaitu salah satu zat yang dapat memicu pertumbuhan kanker. Membiasakan anak mengonsumsi makanan sehat, serta mengurangi makanan cepat saji yang berlemak tinggi, makanan atau minuman berpengawet, dan makanan bersodium tinggi.
  • Perkenalkan garam dan gula setelah anak usia 1 tahun, dan gunakan secukupnya. Sebab sebenarnya lidah pengecap manusia tidak terlalu bisa membedakan tingkat keasinan. Jadi lebih baik, kurangi garam, jangan berlebihan.
Pola makan sehat tidak hanya menghindarkan diri dari penyakit jantung, namun juga penyakit degeneratif lainnya, misalnya diabetes dll.
Lalu Bagaimana mengenali penyakit jantung pada anak-anak?
Berikut ini jenis penyakit jantung pada anak beserta ciri-cirinya:
 
Penyakit jantung rematik
Terjadi karena demam rematik yang diakibatkan oleh bakteri streptokokus. Kebanyakan menyerang anak antara 5 - 15 tahun. Demam rematik bisa menyisakan parut luka di pompa jantung sehingga suatu saat tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya.
 
Kawasaki disease
Biasanya terjadi pada anak di bawah 5 tahun Penyebabnya tidak diketahui pasti, namun diduga merupakan reaksi abnormal terhadap kuman biasa.  Gejala anak mengalami Kawasaki Disease adalah ruam merah, bibir merah dan pecah-pecah, mata merah, tangan dan kaki merah, serta bengkak di kelenjar leher. Bila diatasi dengan cepat, anak-anak yang mengidap Kawasaki Disease bisa diselamatkan.
 
Myokarditis
Otot jantung mengalami peradangan akibat infeksi virus yang merusak sel jantung. Penyakit autoimun (kekebalan tubuh bereaksi terlalu aktif dari tubuh terhadap jaringan tubuh), obat-obatan, dan bahan kimia juga bisa memicu myokarditis. Pada anak, penyebabnya lebih banyak infeksi virus, seperti flu, gondongan, demam rematik, rubela, HIV, dan difteri.
 
Kardiomiopati
Penyakit pada otot jantung yang diakibatkan gangguan genetik atau karena infeksi. Gejalanya termasuk tangan dan kaki yang berkeringat, sulit bernapas, detak jantung tak beraturan, pusing, serta kelelahan.
 
 
 
dari berbagai sumber

Sabtu, 29 November 2014

Agar Balita Gemar Membaca

 Agar Balita Gemar Membaca
 
Setiap orang tua tentu ingin anaknya berkembang baik. Apalagi dalam hal pengetahuan. Tidak heran kalau akhirnya banyak orang tua yang kadang terlalu dini mendaftarkan anaknya ke sekolah (PAUD misalnya).
Harapannya agar anak cepat pintar membaca dan menulis. Akibatnya tidak jarang anak merasa tertekan karena keinginan orang tauanya.
Padahal sebenarnya hal tersebut bisa dilakukan sendiri oleh orang tua, tanpa harus mendaftarkan anak ke sekolah.
Bagaimana cara agar Balita/anak kita gemar membaca?
 
Pertama
Buatlah anak menyukai buku terlebih dulu sebelum belajar membaca. Hal ini bisa dilakukan dengan rutin membacakan buku cerita kepada anak, atau minimal tunjukkan bahwa orang tua mempunyai hobi dan kebiasaan membaca. Selain itu, buat jadwal rutin berkunjung ke toko buku.
Biarkan anak memilih sendiri buku apa yang dia inginkan selama sesuai dengan umurnya.
 
Kedua
Gunakan bahasa anak. Banyak orang tua yang gagal berkomunikasi kepada anak karena tidak menggunakan bahasa anak. Terlalu dewasa saat berkomunikasi dengan anak juga bukan hal yang baik. Cara yang bisa digunakan antara lain dengan bernyanyi, berpantun atau menggunakan permaian yang mereka sukai.
 
Ketiga
Pilih buku yang tepat. Hal ini juga penting agar anak tidak terlalu berat saat mencerna bacaannya. Terkadang anak jadi malas membaca karena apa yang dibaca bukan hal yang ringan dan sering dia temui sehari-hari. Selain itu juga kesalahan orang tau yang kadang memilihkan buku yang banyak bacaan dibanding ilustrasinya.
 
Untuk balita 3-4 tahun Isi cerita sebaiknya berhubungan dengan kejadian sehari-hari dalam kehidupan anak, misalnya hari pertama sekolah atau adik baru. Pada rentang usia ini, isi cerita juga sebaiknya memperluas pengetahuan anak, misalnya cerita tentang anak-anak di negara lain. Buku yang berkaitan dengan emosi juga bisa bermanfaat, misalnya menghadapi teman yang nakal, dan lain-lain. Tapi, jangan lupa untuk selalu mempertimbangkan minat anak agar buku yang dibeli membuatnya tertarik. Selain itu usahakan beli buku yang lebih banyak ilustrasinya, sehingga anak lebih tertarik.
 
Untuk balita 4-5 tahun. Di usia ini anak membutuhkan buku yang bisa mengembangkan pemahaman terhadap kehidupan orang lain.
Contoh: cerita tentang profesi polisi. Pilih buku dengan bahasa yang baik dan sederhana karena anak usia ini sudah mulai belajar bahasa yang baik dan benar. Cerita humor bisa jadi pilihan, atau cerita tentang kehidupan sahabat Nabi.
 
 
Islampos

Kamis, 20 November 2014

Bahaya Mengguncang Tubuh Bayi

Bahaya Mengguncang Tubuh Bayi 
Shaken Baby Syndrome 

Tahukah Anda, beberapa tahun silam, ahli kedokteran mengidentifikasi satu jenis penyakit yang serius pada bayi, namanya “Sindrom Kematian Mendadak”, Salah satu pemicunya ini adalah guncangan pada tubuh bayi.

Pernah melihat orangtua yang melempar-lemparkan bayinya ke udara lalu menangkapnya untuk mendengar sang bayi tertawa? Atau mengguncang-guncang bahunya keras sambil berekspresi lucu?

Jika Anda melakukan demikian, maka berhentilah segera!
Dan jika melihat orang lain berbuat begitu pada bayi mereka, cegahlah, karena sangat berbahaya.

Selain itu, rata-rata sekitar 100 bayi di Jerman setiap tahun mengalami kerusakan parah di otak karena mereka diguncang-guncang pengasuhnya, yang hampir di semua kasus, “terlalu terbebani”.

Laporan mengenai angka tersebut berdasarkan sensus dari unit penyakit langka anak-anak di Jerman. Asosiasi Dokter Anak di Jerman memperkirakan angka bayi yang mengalami trauma akibat diguncang-guncang, sebenarnya lebih tinggi lagi.
Guncangan keras selama lima detik saja sudah cukup untuk merusak fungsi-fungsi otak.
Mengapa guncangan pada bayi bisa bermuara pada kematian?
Menurut ahli kedokteran tadi, ini dikarenakan bayi yang masih sangat muda belum bisa menahan kepalanya sendiri lantaran otot lehernya yang lemah. Akibatnya, jika bayi terguncang badannya, kepalanya akan bergoyang ke depan dan belakang.

Goyangan ini yang mengakibatkan kerusakan otak serta pendarahan di dalam otak dan pada permukaan otak, sehingga dapat menimbulkan masalah serius pada otak sang bayi, dan dapat mengakibatkan masalah yang berlangsung permanen, seperti :

1.Kerusakan otak
2.Cerebral palsy
3.Kebutaan
4.Epilepsi
5.Kesulitan berbicara
6.Kesulitan belajar
7.Kesulitan koordinasi
8.Serangan jantung
9.Keterbelakangan mental

Berikut adalah TIPS untuk Mencegah:
  • JANGAN PERNAH MENGGUNCANG BAYI di bawah umur 3 tahun, dengan alasan apapun juga.
  • Saat Anda menggendong bayi anda, JANGAN LUPA UNTUK SELALU MENYANGGA KEPALA bayi Anda dengan tangan.
  • Beritahukan pentingnya melindungi kepala bayi Anda KEPADA BABY SITTER atau pengasuh bayi anda.
  • PASTIKAN semua orang yang dekat dan sering menggendong bayi anda tahu benar bahayanya seorang bayi jika diguncang-guncang atau digoyang.
  • Jika dengan sengaja/tidak sengaja, anda mengguncang-guncang bayi anda, SEGERA BAWA BAYI ANDA KE DOKTER untuk diperiksakan. Pendarahan di dalam otak hanya dapat diobati jika anda segera memberitahukan kepada dokter bahwa anda baru saja mengguncang bayi anda. Cara ini akan menyelamatkan.
Pada beberapa orang anak bahkan dapat menimbulkan kematian. Ini dikenal dengan shaken-baby-syndrome. Kenapa berbahaya?
  1. Bayi memiliki kepala lebih besar dibandingkan dengan anggota tubuh yang lain, dan otot lehernya masih lemah. Jika diguncang, kepalanya akan tersentak ke depan dan ke belakang.
  2. Sentakan-sentakan itu akan mengguncang otak dan merusaknya.
  3. Pembuluh darah kecilnya akan ikut rusak, menimbulkan pendarahan di otak dan sekitarnya, dan juga di mata bayi.
Resiko terbesar adalah pada bayi dibawah satu tahun, tapi tidak menutup kemungkinan dapat terjadi di usia yang lebih besar. Yang harus diwaspadai adalah guncangan-guncangan ini dapat terjadi justru ketika kita asyik bermain dengan sang bayi.

Karenanya ada beberapa permainan dan aktivitas yang harus dihindari untuk mencegahnya, antara lain :
  1. Melempar bayi ke udara.
  2. Lari-lari sambil membawa bayi di punggung atau di kepala.
  3. Kuda-kudaan (bayi naik ke punggung, naik ke kaki dan digoyang-goyang).
  4. Memutar bayi.
Bagaimana penanganan cidera kepala pada anak?
Segera bawa ke unit gawat darurat terdekat untuk dilakukan pemeriksaan dan pertolongan sesuai dengan gejala yang muncul. Pemeriksaan CT scan kepala rutin dilakukan untuk mengetahui kelainan yang terjadi dan mengevaluasi hasil tindakan atau perawatan.
Apa saja komplikasi dan cacat yang dapat terjadi di kemudian hari?
Pada cidera kepala ringan umumnya akan sembuh seperti sedia kala tanpa cacat sisa. Sedangkan pada keadaan yang lebih berat dapat terjadi gangguan tumbuh kembang, gangguan kognitif, gangguan social, bahkan gangguan kesadaran yang menetap.
Jangan lupa mengingatkan orang-orang di sekitar sang bayi, seperti saudara-saudaranya, pengasuhnya, kakek-neneknya, untuk tidak mengguncang bayi.




dari berbagai sumber

Senin, 17 November 2014

Kedekatan Ibu-Anak & Rahasia Sukses Anak Anda 40 Tahun Kemudian

Kedekatan Ibu-Anak & Rahasia Sukses Anak Anda 40 Tahun Kemudian

Sebuah temuan riset yang mengguncang baru-baru ini dirilis oleh tim peneliti dari Harvard Medical School. Riset itu berlangsung lebih dari 40 tahun lamanya. Para responden penelitian itu dipantau terus hingga puluhan tahun lamanya.
Riset itu bertujuan untuk melacak beragam variabel penentu kesuksesan orang – baik dari sisi finansial, kesehatan dan kebahagiaan.
Ada satu variabel temuan yang dengan sangat akurat bisa memprediksi keberhasilan anak-anak : tingkat keberhasilan, kesehatan dan kebahagiaan apa yang akan dialami anak itu 40 tahun kemudian.

Riset yang berlangsung puluhan tahun itu telah berhasil menemukan beragam variabel yang mempengaruhi tingkat keberhasilan seseorang.
Namun ada satu variabel kunci yang amat mencolok perannya dalam memprediksi tingkat keberhasilan responden yakni tingkat kedekatan dan kehangatan seseorang dengan ibunya saat ia masih kecil.

Dengan kata lain, tingkat relasi dan kehangatan anak dengan ibunya saat masih kecil, merupakan variabel kunci penentu keberhasilan anak tersebut 40 tahun kemudian.
Terbukti sudah, bahwa relasi anak-anak saat masih kecil dengan ibunya benar-benar berdampak signifikan hingga puluhan tahun ke depan dalam pembentukan sejarah hidup anak tersebut.

Apa implikasi dari temuan riset tim Harvard Medical School itu? 
Bagi Anda para wanita calon ibu dan juga ibu yang sudah punya anak-anak kecil – dan selama ini bekerja secara full time di kantor; hasil riset itu menghadirkan pertanyaan reflektif.
Apakah ibu-ibu yang bekerja full time di kantor itu masih punya waktu berkualitas untuk membangun relasi yang intim dan hangat dengan anak-anaknya (terutama yang masih berusia dibawah 10 tahun)?
Harus diakui dengan cukup pahit: waktu untuk bekerja di kantor sekarang kian menyita waktu (juga karena jalanan yang makin crowded).
Pergi mulai dari jam 6 pagi (kalau Anda tinggal di Bekasi, mungkin harus lebih pagi lagi). Lalu pulang di rumah jam 6 petang, kadang lebih. Begitu terus tiap hari selama 5 kali seminggu. Jalanan yang macet juga membuat energi sudah habis di jalanan.
Alhasil, anak-anak kecil yang masih di rumah jarang lagi mendapatkan kehangatan dari sang ibu. Anak-anak itu mungkin jadi lebih dekat dengan mbak-mbak asisten rumah tangga atau dengan baby sitter-nya.
Ibu-ibu tangguh yang bekerja full time itu lalu menghadapi dilema : bagaimana menyeimbangkan prioritas antara work and family, antara tugas kantor dengan mengasuh anak-anaknya yang masih kecil (apalagi yang masih perlu ASI).
Sebab ingat: temuan riset Harvard tadi menyebut, tingkat kedekatan anak dan sang ibu akan amat menentukan nasib dan sejarah anak itu 40 tahun kemudian.
Ada dua solusi yang bisa diberikan oleh kantor (perusahaan) yang menyediakan pekerjaan bagi para ibu.

Solusi # 1: Perusahaan atau kantor tempat bekerja selayaknya menyediakan fasilitas nursing care dan child care yang lengkap dan memadai. Syukur disediakan juga pengasuh anak yang diberikan secara gratis oleh perusahaan (praktek seperti ini lazim di berbagai perusahaan di manca negara).
Dengan fasilitas nursing and child care, ibu-ibu karyawati yang punya anak kecil (atau balita) bisa sesekali membawa anaknya ke kantor (dengan itu ia masih bisa tetap menjalin relasi yang cukup dekat dengan anak-anaknya).

But you know what? 99% lebih perusahaan di Indonesia TIDAK menyediakan nursing and child care buat karyawatinya yang punya anak balita. 
Bahkan perusahaan mapan seperti Astra, Bank BCA, Adira, hingga organisasi besar seperti Bank Indonesia tidak punya fasilitas nursing/child care yang modern dan lengkap.
Ini ironis. Banyak perusahaan menuntut karyawatinya untuk produktif dan loyal. Namun saat diminta menyediakan fasilitas basic yang bagus (seperti nursing/child care), mereka ogah. Kalau begini, sana gih, perusahaannya pindah saja ke Zimbabwe atau Kongo.

Now, ask yourself: apakah tempat Anda bekerja sudah menyediakan fasilitas nursing and child care yang modern dan dilengkapi dengan kamera CCTV (sehingga ibu-ibu bisa memantau mobilitas anak-anak kecilnya hanya melalui layar smartphone)?

Solusi # 2: Sediakan kebijakan teleworking bagi ibu-ibu yang kebetulan masih punya anak kecil dan balita. Teleworking kita tahu, adalah kebijakan yang membolehkan karyawan untuk bekerja dari rumah.
Sekarang kita sudah hidup di jaman digital. Amat banyak pekerjaan di kantor yang sebenarnya bisa diselesaikan dari rumah, sepanjang ada koneksi internet.
Survey juga menunjukkan, sepanjang ada target kinerja yang jelas maka kebijakan teleworking justru makin meningkatkan produktivitas karyawannya. Kebijakan ini tentu juga amat membantu mengurangi kemacetan di jalanan.
Dengan kebijakan teleworking, ibu-ibu yang masih punya balita bisa bekerja dari rumah setiap 2 hari seminggu.
Dengan demikian ibu-ibu muda (yang cantik dan tangguh) ini bisa menghemat waktu 2 – 3 jam perjalanan PP ke kantor yang hanya habis di jalanan (kalau rumahnya di Bekasi malah bisa 4 jam pulang pergi.

Waktu 3 – 4 jam yang sia-sia di jalanan jauh lebih berharga untuk dihabiskan dengan sang buah hati di rumah. Demi membangun relasi yang hangat dan berkualitas.
Namun kembali, lansekap perusahaan di tanah air punya warna kelam dalam soal kebijakan teleworking. Nyaris tidak ada satu pun perusahaan swasta nasional dan BUMN di tanah air yang merilis kebijakan teleworking bagi para karyawatinya. Ajaib.
Manajer dan Direktur HRD di perusahaan-perusahaan besar itu mungkin sudah menggunakan smartphone atau tablet tercanggih di sakunya. Namun sayang, dalam soal kebijakan teleworking, pola pikir mereka masih primitif. Purbakala.

Demikianlah, dua solusi yang layak diperhatikan dan diterapkan oleh para pengelola SDM di berbagai perusahaan dan kantor. Anda yang berperan sebagai ibu atau calon ibu harus mendorong manajemen kantor Anda untuk menerapkan dua solusi diatas.
Sebab dengan itu ibu-ibu muda yang tangguh itu – yang rela bekerja full time demi tambahan nafkah – masih bisa punya waktu berkualitas dengan sang buah hatinya di rumah.
Ya, agar anak-anak yang masih kecil itu bisa tumbuh dalam kehangatan ibundanya. Demi masa depan anak-anak. Demi hidup dan sejarah mereka 40 tahun kemudian.
 


sumber: strategimanajemen.net

Kamis, 13 November 2014

Mengenali Ciri Khas Emosi Anak

Mengenali Ciri Khas Emosi Anak

Layaknya orang dewasa, anak pun memiliki perasaan yang berbeda-beda. Adakalanya ia merasa senang, sedih juga emosi. 
Ketika berada dalam perasaan emosi, ia akan mengeluarkan ekspresi yang berbeda dari orang dewasa. 

Emosi adalah perasaan intens yang ditujukan kepada seseorang atau sesuatu. Emosi adalah reaksi terhadap seseorang atau kejadian. 
Emosi dapat ditunjukkan ketika merasa senang mengenai sesuatu, marah kepada seseorang, ataupun takut terhadap sesuatu.

Kata "emosi" diturunkan dari kata bahasa Perancis, émotion, dari émouvoir, atau 'kegembiraan' yang berasal dari bahasa Latin emovere, dari e- (varian eks-) 'luar' dan movere 'bergerak'. Kebanyakan ahli yakin bahwa emosi lebih cepat berlalu daripada suasana hati. 
Sebagai contoh, bila seseorang bersikap kasar, manusia akan merasa marah. Perasaan intens kemarahan tersebut mungkin datang dan pergi dengan cukup cepat tetapi ketika sedang dalam suasana hati yang buruk, seseorang dapat merasa tidak enak untuk beberapa jam.

Lalu, seperti apa ya ciri khas emosi anak?
Berikut ada beberapa ciri khas emosi pada anak.

1. Emosi yang kuat
Anak kecil bereaksi dengan intensitas yang sama, baik terhadap situasi yang remeh maupun yang serius. Anak pra remaja bahkan bereaksi dengan emosi yang kuat terhadap hal-hal yang tampaknya bagi orang dewasa merupakan soal sepele.

2. Emosi seringkali tampak
Anak-anak seringkali memperlihatkan emosi mereka meningkat dan mereka menjumpai bahwa ledakan emosional seringkali mengakibatkan hukuman. Mereka belajar untuk menyesuaikan diri dengan situasi yang membangkitkan emosi. Kemudian mereka mengekang ledakan emosi mereka dan bereaksi dengan cara yang lebih dapat diterima.

3. Emosi bersifat sementara
Peralihan yang cepat pada anak-anak kecil dari tertawa kemudian menangis, atau dari marah ke tersenyum, atau dari cemburu ke rasa sayang merupakan akibat dari 3 faktor, yaitu :
  • Membersihkan sistem emosi yang terpendam dengan ekspresi terus terang.
  • Kekurangsempurnaan pemahaman terhadap situasi karena ketidakmatangan intelektual dan pengalaman yang terbatas.
  • Rentang perhatian yang pendek sehingga perhatian itu mudah dialihkan. Dengan meningkatnya usia anak, maka emosi mereka menjadi lebih menetap.

dari berbagai sumber

Selasa, 04 November 2014

Bahaya Gadget Bagi Anak-Anak

Bahaya Gadget Bagi Anak-Anak

Di zaman digital ini, dompet boleh tertinggal di rumah. Tapi kalau lupa bawa smartphone (ponsel pintar) atau komputer tablet, dijamin pemiliknya bakal mati gaya. Kini, mulai dari pekerjaan hingga berkomunikasi, aktivitas manusia dipermudah dengan perangkat elektronik mini (gadget) yang terkoneksi dengan internet.

Ponsel pintar makin sering digenggam pemiliknya. Maka tak heran, pertumbuhan ponsel begitu meningkat tajam. Saking tajamnya, mampu mengalahkan populasi manusia hanya dalam beberapa dekade.

Menurut data analisis digital dari Groupe Speciale Mobile Association (GSMA) Intelligence, perangkat mobile seperti tablet, smartphone, dan telepon mencapai 7,22 miliar unit. Angka itu berbeda tipis dengan populasi manusia di bumi, sekitar 7,2 miliar.

"Tidak ada teknologi yang mempunyai dampak signifikan seperti ponsel. Ini merupakan fenomena buatan manusia yang lebih cepat berkembang daripada manusia. Dari nol hingga 7,22 miliar unit dalam waktu tiga dekade.

Keberadaan gadget itu sendiri ibarat dua sisi uang logam. Di satu sisi sangat membantu manusia dalam melakukan banyak hal. Namun, perangkat ini bisa berdampak negatif bagi kondisi fisik dan mental penggunanya, terutama bagi anak-anak.

Bahaya Bagi Anak
Asosiasi dokter anak Amerika dan Kanada menekankan anak usia 0-2 tahun tidak diperbolehkan memainkan gadget. Anak 3-5 tahun dibatasi satu jam per hari dan dua jam untuk anak 6-18 tahun.
Tapi faktanya, anak-anak justru menggunakan gadget 4-5 kali lebih banyak dari jumlah yang direkomendasikan.

Bahkan, penggunaan ponsel pintar, tablet, dan peranti game elektronik sudah dimulai sejak usia sangat dini.
Perlu ada larangan penggunaan gadget pada usia anak di bawah 12 tahun. Sudah banyak penelitian yang membuktikan dampak negatif gadget pada anak.

Berikut 10 alasan larangan bermain gadget pada anak :

1. Pertumbuhan otak yang terlalu cepat
Pada usia 0-2 tahun, pertumbuhan otak anak memasuki masa perkembangan hingga 21 tahun. Perkembangan otak awal ditentukan oleh rangsangan lingkungan. Stimulasi yang berasal dari gadget akan berhubungan dengan fungsi eksekutif dan defisit perhatian, gangguan kognitif, kesulitan dalam belajarm peningkatan impulsif dan menurunkan kemampuan dalam mengendalikan diri.

2. Hambatan perkembangan
Penggunaan gadget akan membatasi gerak anak, yang mengakibatkan perkembangan terhambat. Satu dari tiga anak sekolah yang menggunakan gadget memiliki hambatan pada perkembangan, dan berdampak buruk pada prestasi akademik. Penggunaan gadget di bawah usia 12 tahun akan menghambat perkembangan anak.

3. Obesitas
Gadget berkorelasi dengan risiko obesitas. Saat menggunakan gadget, anak cenderung kurang bergerak. Anak yang diperbolehkan bermain gadget di kamar tidur mereka 30 persen mengalami risiko obesitas. Obesitas berpotensi diabetes, stroke, dan serangan jantung. Sehingga dapat memperpendek usia. Anak-anak yang lahir pada abad 21, kemungkinan tidak akan hidup lebih lama daripada orangtua mereka.

4. Gangguan tidur
Kebanyakan orangtua tidak mengawasi anaknya saat bermain gadget. Sebanyak 75 persen anak yang bermain gadget di kamar tidur mengalami masalah pada tidurnya. Sehingga berdampak pada prestasi belajar mereka.

5. Penyakit mental
Penggunaan gadget berlebihan menjadi penyebab meningkatnya laju depresi pada anak, kecemasan, gangguan perhatian, autisme, gangguan bipolar, psikotis dan gangguan perilaku pada anak.

6. Agresif
Konten kekerasan dapat menyebabkan agresif pada anak. Seperti pada game Grand Theft Auto V, yang menggambarkan seks, pembunuhan, pemerkosaan, penyiksaan dan mutilasi. Dan banyak lagi di dalam film dan acara TV.

7. Pikun digital
Konten media berkecepatan tinggi berkontribusi terhadap meningkatnya risiko defisit perhatian, serta penurunan konsentrasi dan ingatan, karena pemangkasan otak yang berperan dalam melakukan hal itu.

8. Kecanduan
Kurangnya perhatian orangtua, anak-anak cenderung lebih dekat dengan gadget. Dengan tidak adanya keterikatan orangtua, anak-anak melampiaskannya ke gadget. Sehingga menyebabkan kecanduan.

9. Radiasi
Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan ponsel sebagai risiko kategori 2B, karena emisi radiasi yang dihasilkan. Anak-anak lebih sensitif terhadap berbagai radiasi dibandingkan orang dewasa, karena sistem kekebalan tubuhnya masih berkembang.

10. Tidak berkelanjutan
Edukasi yang berasal dari gadget tidak akan lama bertahan dan berkelanjutan dalam ingatan anak-anak. Anal-anak adalah masa depan kita, tetapi tidak ada masa depan bagi anak-anak yang terlalu sering menggunakan gadget. Dengan demikian, pendekatan pendidikan melalui gadget tidak akan berkelanjutan bagi anak-anak.

Peran orangtua
Banyak para orangtua yang belum mempunyai kesadaran terhadap fungsi dan manfaat gadget dalam kehidupan sehari-hari.
Ciri-ciri orangtua dalam menyikapi keberadaan gadget bisa dibedakan sebagai berikut;
Ciri pertama adalah orangtua yang berpandangan bahwa dengan memberikan gadget kepada anak, akan menambah pengetahuan anak.
Ciri yang kedua adalah ada orangtua yang memberikan gadget agar anaknya berhenti rewel, tidak berisik, serta mengganggu orangtuannya saat sedang beraktivitas.
Langkah seperti itu salah kaprah dan bisa berakibat buruk kepada anak.
Anak dilepas dan dibiarkan untuk memilih sesuatu yang dimana dia belum bisa menentukan mana yang baik dan mana yang benar. Seharusnya itu yang perlu banyak bimbingan. Namun, banyaknya orangtua yang salah kaprah karena itu. Nanti kalau sudah kejadian (negatif).

Setiap orangtua harus ikut berperan aktif dalam memilih permainan. Lebih bagus juga bila orangtua ikut mencoba dan mendampingi anak, jika memang tidak bisa dihindari untuk bermain gadget.
Kalau tidak didampingi, anak akan mencari sendiri dan bisa saja salah.

Orangtua mempunyai tanggungjawab besar dalam mendampingi anak ketika mereka bermain game eletronik tersebut.
Harus ada pengawasan terhadap anak agar tidak terjadi sesuatu yang buruk. Selain itu, harus ada batasan waktu bagi anak dalam bermain game di gadget. Jangan biarkan anak terus-terusan bermain.

Jadi, berapa lama anak menggunakan komputer untuk browsing atau main game. Sisanya, orangtua harus mengajak anak keluar dari itu (perangkat komputer) supaya bisa bersosialisasi.


Viva news

Minggu, 02 November 2014

Beri Anak Wawasan Global Sejak Dini

Beri Anak Wawasan Global Sejak Dini

Mungkin sebagian orang tua atau guru berpikir bahwa anak didiknya, atau anaknya adalah hanyalah sebagai warga negara biasa, tinggal di kampung yang jauh dari pusat kota, jauh dari hiruk pikuk dunia yang begitu dinamis, dan mereka tidak berpikir bahwa suatu saat nanti ada generasi dari anak-anaknya yang akan masuk menghadapi dan melewatinya bahkan mungkin anak-anaknya yang akan mewarnai peradaban di muka bumi ini.

Era globalisasi saat ini yang tanda-tandanya diantaranya adalah dimana batas-batas bumi semakin bias, seolah tidak ada jarak geografis yang memisahkan antara satu kota dengan kota lain, satu negara, dengan negara lain dan satu benua dengan benua lainnya. 
Kita akan menjadi warga bumi yang hanya dipisahkan oleh batas administratif saja. Informasi begitu cepat menyebar sampai ke pelosok-pelosok, begitu pun efek arus globalisasi begitu kuat menerpa kita saat ini, dan tentu ke depan, arus ini akan terus bergerak semakin kuat menerjang anak-anak kita kelak dewasa nanti.

Oleh karena itu kita harus memiliki kesadaran bahwa anak-anak kita hari ini adalah mereka yang hidup di masa yang akan datang. Saat ini anak-anak kita belajar, di didik dan dilatih, tentu bukan hanya bekal untuk hari ini dan esok hari, tetapi kita persiapkan untuk hidup sepuluh, duapuluh, tigapuluh tahun yang akan akan datang dan seterusnya, dimana tantangannya tentu akan berbeda dengan apa yang dirasakan oleh kita saat ini. 
Maka tepat sekali pernyataan Sayyidina Ali bib Abi Thalib Karamallohu wajhah berkata dalam sebuah pernyataannya yang berbunyi:
“Ajarilah anak-anak kamu sesuai dengan kebutuhan zamannya, karena mereka akan hidup di suatu zaman setelah kamu.”

Alangkah bijaknya, kita sebagai orang tua atau guru menanamnya kesadaran global ini kepada anak kita sejak dini. Diberi pemahaman kepada anak sejak dini bahwa kita ini adalah bagian dari komunitas dunia. Sampaikan kepada anak kita bahwa kita tidak tinggal dari komunitas kampung atau desa dimana kita berada sekarang, akan tetapi kampung kita adalah bagian dari peta bumi dan kita ada di dalamnya.
Dengan demikian anak sudah sejak dini sudah menyimpan memori dalam otaknya bahwa dirinya adalah penduduk bumi dan bagian dari warga yang harus bertanggung jawab melestarikan dan memakmurkannya.  
Pemahaman ini selaras dengan firman Alloh SWT. yang artinya : “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi,” (Q.S: Al-Baqarah; 30).

Dari mana kita memulai, tentu dari kita, orang tua dan guru di sekolah. 
Kita sebagai orang tua atau guru terlebih dahulu yang harus memiliki wawasan global. Tidak mungkin wawasan global ini akan mengalir ke siswa bila kita sebagai orang tua atau guru justru berwawasan sempit atau lokal. Misalnya bagaimana kita sebagai orang tua atau seorang guru memiliki kesadaran dan kepekaan tidak hanya terhadap masalah-masalah lokal atau regional, akan tetapi juga kita peka terhadap permasalahan global seperti isu tentang energi, pemanasan global, lingkungan hidup, dan lainnya.
Kesadaran ini bisa ditanamkan juga dilakukan oleh kita sebagai tindakan lokal tetapi diberikan pemahaman kepada anak kita bahwa dampaknya adalah global; seperti tidak membuang sampah sembarang, hemat air atau listrik, kalau perjalanan dekat lebih baik jalan kaki dan sebagainya. 
Mari kita mulai!


sumber: Tulisan Dr. Manpan Drajat. M.Ag., Ketua STAI KH EZ Muttaqien Purwakarta, Jawa Barat (islampos)

Kamis, 06 Februari 2014

Ragam Type Anak dan Keunggulannya


Ragam Type Anak dan Keunggulannya
 
Seorang ibu membeli beberapa pot bunga yang berisi aneka bunga. Pot-pot itu diletakkan di halaman rumah untuk menambah keasrian dan keindahan rumahnya. Ia lalu berdoa, "Ya Allah, melalui bunga-bunga ini semoga nanti akan berdatangan kupu-kupu indah ke rumahku."
Lalu si ibu ini kembali lagi pada kesibukannya sehari-harinya.

Seminggu kemudian, ia menunggu dan menunggu, tidak kunjung ada kupu-kupu di halaman rumahnya. Hingga suatu hari betapa kagetnya si ibu mendapati bahwa bukan kupu-kupu yang datang tapi ulat-ulat bulu yang merambat pada pohon-pohon bunga yang dibelinya itu.
Si ibu kesal lalu berkata, "Ya Allah, aku minta kepada-Mu kupu-kupu cantik tapi mengapa yang datang malah ulat-ulat jelek ini?"
Sambil terus mengumpat, pot-pot bunga yang penuh dengan ulat bulu itu akhirnya dipindahkan ke gudang.

Sebulan kemudian, tepat di hari yang ke-30 sejak kejadian tersebut, si ibu ingin mencari peralatan yang ia taruh di gudang. Ketika membuka pintu gudang, betapa kagetnya ia melihat begitu banyak kupu-kupu yang berwarna-warni dan sangat indah memenuhi gudang tersebut. Kupu-kupu itu satu demi satu mulai beterbangan keluar pada saat pintu gudang dibuka... untuk mencari bunga-bungaan di sekitarnya.
Terang saja kejadian yang luar biasa ini telah membuat si ibu tadi menjadi diam tertegun, ia tidak bisa berkata-kata lagi, melainkan hanya memandangi satu persatu kupu-kupu yang keluar dari gudang menuju tamannya. Dan tanpa sadar kakinya bergerak melangkah mengikuti arah kupu-kupu tadi terbang.
 "Alangkah Indahnya tamanku saat ini." Si ibu berujar dalam hati. "Ya Allah, ternyata ulat bulu yang dulu jelek itu kini telah berubah menjadi seekor kupu-kupu yang begitu cantik dan menawan. Seandainya saja dulu aku tahu, mungkin aku tidak akan pernah mengeluh dan merasa terusik dengan keberadaan mereka."


Wahai para orang tua...
Begitulah kita para orang tua dan guru pada umumnya, seringkali melihat dan menilai anak-anak kita bak ulat bulu, yang mengganggu dan membuat kita gatal untuk selalu mengeluh, marah dan berusaha menyingkirkan mereka.
Anak kita tidak ubahnya seperti ulat bulu yang sering kali dinilai berdasarkan sisi negatifnya saja. Padahal di balik itu semua ada sebuah proses metamorfosa yang tersembunyi...... ya, sisi indah yang kelak akan dimunculkannya saat mereka dewasa.

Kita mungkin sering mendengar banyak orang tua dan guru yang mengeluhkan anaknya yang hiper-aktif dan tidak mau diam atau tidak bisa tenang... Padahal sesungguhnya kelak anak-anak ini akan menjadi orang yang sangat dinamis... kelak anak-anak ini akan mampu mengerjakan berbagai tugas dalam waktu bersamaan, atau malah memimpin lebih dari satu perusahaan tanpa merasa kesulitan sama sekali.
Ada juga orang tua yang mengeluhkan anaknya yang katanya keras kepala dan susah sekali diatur... Padahal sesungguhnya kelak anak-anak semacam ini akan menjadi pimpinan-pimpinan organisasi/perusahaan yang sangat berhasil dengan strategi dan ide-idenya yang jitu.
Atau ada juga orang tua yang mengeluhkan anaknya yang katanya pemalu dan sulit bergaul, ia lebih suka menyendiri melakukan sesuatu di kamar dan anaknya cengeng sekali. Padahal sesungguhnya kelak anak-anak semacam ini akan menjadi anak yang sangat unggul di bidang Sains Teknologi atau bisa juga menjadi seniman-seniman kelas dunia, mereka adalah anak-anak yang peka dan penuh cinta kasih terutama pada orang tuanya...
Lain lagi misalnya ada orangtua yang mengeluhkan anaknya terlau cerewet dan tidak tahu malu... bahkan cenderung malu-maluin katanya. Padahal sesunguhnya kelak anak-anak ini akan menjadi orang-orang yang terkenal karena kemampuan tampilnya di depan umum dan keberaniannya untuk berekpresi.

Begitulah sejarah telah membuktikan berkali-kali bahwa anak-anak yang dulu pada saat masa kecilnya dianggap sebagai anak yang aneh dan menyebalkan seperti Ulat Bulu... Namun nyatanya setelah mereka dewasa justru menjadi orang-orang yang sangat sukses dan terkenal di kehidupan.
Tapi bagaimana mungkin Sang Ulat Bulu akan bisa menjadi kupu-kupu yang cantik dan indah, jika kita semua selalu menganggapnya sebagai sesuatu yang jelek dan harus segera disingkirkan dari pandangan kita.
Sesungguhnya begitu banyak anak-anak Indonesia yang mengalami nasib mirip seperti ulat bulu tadi. Karena mereka selalu dianggap sebagai anak bermasalah maka mereka tidak pernah memiliki kesempatan untuk bermetamorfosa menjadi seekor kupu-kupu yang indah... yah... begitu malangnya mereka, sampai akhirnya mereka harus tetap menjadi ulat bulu sesungguhnya sepanjang hidupnya. Ya Ulat bulu yang benar-benar mengganggu kehidupan kita semua....

Bagaimana dengan kita.., anda dan saya memperlakukan anak kita atau anak anak kecil disekitar kita??


piyunganonline

Selasa, 04 Februari 2014

Hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Mendidik Anak



Hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Mendidik Anak
 
Setiap orangtua pastinya selalu ingin memberikan sesuatu yang terbaik bagi putra-putrinya. Tetapi kadang berlebihan, sehingga sesuatu yang menurut anggapan kita baik, ternyata menjadi tidak baik terhadap perkembangan anak.
Berikut ada beberapa hal yang perlu perhatikan dalam mendidik anak,
  1. Selalu berikan pengawasan, terutama ketika anak banyak bergaul di lingkungan luar keluarga. Bila anak Anda sekolah dan terpaksa kost, kunjungilah secara berkala. Jangan biarkan anak Anda berkelana sendirian, ia butuh perhatian Anda.
  2. Bereaksilah secara proporsional. Jangan terlalu berlebihan menanggapi sesuatu yang terjadi pada anak. dengarkan terlebih dahulu apa yang dirasakan/dialami anak baru setelah itu mengambil tindakan yang diperlukan.
  3. Jika anak berbuat kesalahan, biarkan anak belajar dari kesalahan itu sehingga tidak terjadi lagi kesalahan yang sama. Tentunya hal ini diterapkan pada hal-hal yang tidak membahayakan anak dan masih dalam pengawasan kita.
  4. Hilangkan sifat egois. Banyak ibu-ibu lebih suka menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk make-up dan perawatan dirinya, dibanding satu jam bersama anak.
  5. Hindari bertengkar di hadapan anak.
  6. Tegaslah. Merengek adalah salah satu senjata ampuh bagi anak untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Orangtua harus tegas dan berwibawa di hadapan anak, dan hal itu harus dilakukan secara konsisten.
  7. Lakukan dengan hati. Lakukan saja sesuai dengan kata hati Anda dan biarkan mengalir tanpa mengabaikan nasihat-nasihat dari orang-orang terdekat jika memang dirasa relevan.
  8. Tidak semua hal harus diukur dengan materi. Memanjakan anak dengan mainan dan liburan yang mewah memang tidak ada salahnya. Tapi yang seharusnya disadar, anak lebih membutuhkan quality time bersama orangtuanya. Si kecil cenderung ingin didengarkan dibanding diberi sesuatu lalu disuruh diam.
  9. Usahakan bersikap adil. Beberapa orangtua kadang membela anak apapun yang terjadi, entah anak dalam posisi yang benar atau salah. Mereka akan hilang persepsi dan cenderung terpola untuk bersikap berat sebelah.


intisari online

Senin, 03 Februari 2014

Masalah Kesehatan Yang Biasanya Diderita Anak-Anak

 Masalah Kesehatan Yang Biasanya Diderita Anak-Anak


Penyakit anak-anak terjadi pada hampir semua anak-anak, terutama balita. hal ini terjadi karena sistem kekebalan tubuh mereka masih belum kuat. Penyakit-penyakit di bawah ini biasanya terjadi di antara usia 2-5 tahun.
Berikut adalah penyakit yang sebaiknya Anda waspadai ketika Anda mempunyai balita.


Cacar air
Cacar air adalah infeksi virus yang menyebabkan demam dan bintik di sekujur tubuh buah hati Anda. Walaupun setiap orang paling tidak akan mendapatkan penyakit ini sekali dalam hidup mereka namun anak-anaklah yang paling sering mendapatkan penyakit ini. Penyakit ini akan berjalan dalam jangka waktu yang lama sekitar 21 hari. Anda perlu mengisolasi buah hati Anda karena penyakit ini sangat menular. Jangan biarkan mereka menggaruk luka cacar sebab dapat menyebabkan bekas luka.


Campak
Campak adalah penyakit di mana buah hati Anda mengalami ruam merah dan beberapa kelenjarnya menjadi bengkak. Penyakit campak ditandai dengan demam. Penyakit ini membutuhkan waktu 7 hari untuk proses penyembuhannya serta mampu menular.


Gondong
Gondong adalah penyakit yang mempengaruhi kelenjar ludah. Selain demam, tenggorokan buah hati Anda akan membengkak. Biasanya proses ini akan membuat buah hati Anda sulit menelan sehingga membutuhkan proses penyembuhan yang cukup lama yakni antara 7-10 hari.


Pink eye
Pink eye atau konjungtivitis adalah salah satu penyakit mata yang umum dialami buah hati Anda. Penyakit ini ditandai dengan mata yang berwarna pink atau merah muda. Penyakit ini memakan waktu sekitar 3-5 hari untuk menyembuhkannya.


Demam tinggi
Demam juga merupakan penyakit yang umum terjadi pada anak-anak. Demam biasa dapat berubah menjadi demam tinggi apabila tidak mendapatkan penanganan yang tepat. Demam tinggi terjadi ketika ada luka di tenggorokan mereka atau infeksi virus. Demam ini akan menyebabkan munculnya ruam berwarna merah dan kasar. Dengan pemberian antibiotik yang tepat, maka demam ini akan sembuh dalam 3 hari.


Penyakit di atas adalah penyakit yang umum terjadi pada anak-anak. Jika hal tersebut terjadi, maka siapkan berbagai macam cara untuk menanganinya. Serta yang terpenting adalah jangan panik.


dari berbagai sumber

Sabtu, 01 Februari 2014

Buah hati terkena obesitas? Ini 7 cara mengontrol pola makannya

Buah hati terkena obesitas?
Ini 7 cara mengontrol pola makannya
 

Kegemukan atau obesitas adalah suatu kondisi medis berupa kelebihan lemak tubuh yang terakumulasi sedemikian rupa sehingga menimbulkan dampak merugikan bagi kesehatan, yang kemudian menurunkan harapan hidup dan/atau meningkatkan masalah kesehatan. Seseorang dianggap menderita kegemukan (obese) bila indeks massa tubuh (IMT), yaitu ukuran yang diperoleh dari hasil pembagian berat badan dalam kilogram dengan kuadrat tinggi badan dalam meter, lebih dari 30 kg/m2.
Obesitas pada anak-anak sama sekali bukanlah hal yang baru saat ini sebab semakin banyak saja anak-anak yang terkena obesitas. Gaya hidup menjadi faktor penting kenapa hal ini bisa terjadi. Terlalu banyak makan dan tidak diimbangi dengan aktivitas fisik menjadi contohnya. Belum lagi dengan makin banyaknya makanan olahan yang dikonsumsi buah hati.
Berikut adalah cara untuk mengontrol pola makan pada buah hati Anda.

Perbanyak sayuran
Sertakan lebih banyak sayuran dalam menu makanan buah hati Anda. Jika mereka tidak menyukainya Anda bisa menyiasatinya dengan mengolah sayuran tersebut menjadi lebih menarik dan lezat sehingga mereka pun akan belajar untuk mencintai sayuran.


Pilih makanan rendah kalori
Lakukan pengecekan jumlah kalori pada makanan yang akan Anda berikan pada buah hati. Sebagai contoh, pilihlah daging tanpa lemak, unggas, ikan, dan kacang-kacangan sebagai sumber protein. Hal ini dapat memberikan nutrisi yang cukup pada buah hati tanpa meningkatkan berat badan buah hati Anda.


Air
Minum air merupakan cara yang efektif untuk mengontrol kebiasaan makan buah hati Anda yang obesitas. Minum cukup air juga akan membantu buah hati Anda agar tetap terhidrasi sepanjang hari.


Hindari junk food
Salah satu penyebab obesitas pada anak-anak adalah junk food yang mereka konsumsi. Zat aditif, pengawet, dan perasa tambahan di dalamnya sama sekali tidak sehat sehingga jangan berikan lagi junk food pada buah hati.


Batasi konsumsi gula
Gula juga bisa menjadi penyebab obesitas pada buah hati. Jadi batasi konsumsi gula pada buah hati. Salah satu caranya adalah dengan membatasi jumlah camilan manis mereka.


Jangan biarkan makan di depan TV
Makan di depan TV dapat menjadi kebiasaan yang membuat buah hati Anda terkena obesitas. Oleh karena itu jangan biarkan mereka makan di depan TV. Minta mereka untuk makan langsung di meja makan sehingga mereka benar-benar menikmati makanan yang ada di hadapan mereka.


Berikan dukungan emosional
Memberikan dukungan emosional pada buah hati juga menjadi cara yang penting agar buah hati bisa terhindar dari masalah obesitas. Sebab ketidakpercayaan diri bisa menjadikan mereka seorang emotional eater.

Obesitas pada anak-anak bisa menjadi hal yang mengerikan sebab bisa mengantarkan mereka pada risiko penyakit kronis di usia dini. Oleh karena itu terapkan tips di atas untuk menyembuhkan obesitas pada buah hati.


Merdeka.com

Jumat, 24 Januari 2014

Jangan Lakukan Aktivitas ini Selama Mendidik Anak Bagian III



Jangan Lakukan Aktivitas ini Selama Mendidik Anak
-Bagian III-
 
Seperti peribahasa "Buah jatuh tak jauh dari pohonya", begitulah perilaku anak yang meniru kebiasaan para orang tuanya.
Kebiasaan seorang anak adalah apa yang mereka lihat, apa yang mereka dengar & apa yang mereka rasakan.
Kebiasaan buruk apa saja yang dapat menjadikan kepribadian anak menjadi buruk/tidak baik?
Berikut 37 kebiasaan orang tua dalam mendidik anak yang dapat menghasilkan perilaku buruk pada anak, bagian ketiga.


25. Paling benar dan paling tahu segalanya
Egosentris adalah masa alamiah yang terjadi pada anak usia 1-3 tahun. Usia tersebut adalah masa ketika anak merasa paling benar dan memaksakan kehendaknya. Tapi entah mengapa ternyata sifat ini terbawa dan masih banyak dimiliki oleh para orang tua. Contoh ungkapan orang tua, “ah kamu ini anak bau kencur, tau apa kamu soal hidup.” Atau, “kamu tau nggak, kalo papa/mama ini sudah banyak makan asam garam kehidupan, jadi nggak pake kamu nasehatin papa/mama!”.
Jika kita memiliki kebiasaan semacam ini, maka kita membuat proses komunikasi dengan anak mengalami jalan buntu. Meskipun maksud kita adalah untuk menunjukkan superioritas kita di depan anak, tapi yang ditangkap anak adalah semacam kesombongan yang luar biasa, dan tentu saja tak seorang pun mau mendengarkan nasehat orang yang sombong.


Apa yang seharusnya kita lakukan?
Seringkali usia dijadikan acuan tentang banyaknya pengetahuan juga banyaknya pengalaman. Pada zaman dulu hal ini bisa jadi benar, namun untuk saat ini, kondisi itu tidak berlaku lagi. Siapa yang lebih banyak mendapatkan informasi dan mengikuti kegiatan kegiatan, maka dialah yang lebih banyak tahu dan berpengalaman.
Jadi janganlah merasa menjadi orang yang paling tahu, paling hebat, paling alim. Dengarkanlah setiap masukan yang datang dari anak kita.


26. Saling melempar tanggung jawab
Mendidik anak terutama menjadi tanggung jawab orang tua, yaitu ayah dan ibu. Bila kedua belah pihak merasa kurang bertanggung jawab, maka proses pendidikan anak akan terasa timpang dan jauh dari berhasil. Celakanya lagi, bila orang tua sudah mulai merasakan dampak perlawanan dari anak anaknya, yang sering terjadi malah saling menyalahkan satu sama lain.
Pernyataan yang kerap muncul adalah, “kamu emang nggak becus ngedidik anak”, dan kemudian dibalas “enak aja lo ngomong begitu, nah kamu sendiri, selama ini kemana aja?!”. Jika cara ini yang dipertahankan di keluarga, akankah menyelesaikan masalah? Tunggu saja hasilnya, pasti orang tua lah yang akan menuai hasilnya, sang anak akan merasa perilaku buruknya adalah bukan karena kesalahannya, tapi karena ketidak becusan salah satu dari orang tuanya. Jelas anak kita akan merasa terbela dan semakin berperilaku buruk.


Apa yang seharusnya kita lakukan?
Hentikan saling menyalahkan. Ambillah tanggung jawab kita selaku orang tua secara berimbang.keberhasilan pendidikan ada di tangan orang tua. Pendidikan adalah kerja sama tim, da bukan individu. Jangan pakai alasan tidak ada waktu, semua orang sama sama memiliki waktu 24 jam sehari, jadi aturlah waktu kita dengan berbagai macam cara dan kompaklah selalu dengan pasangan kita.
Selalu lakukan introspeksi diri sebelum introspeksi orang lain.


27. Kakak harus selalu mengalah
Di negeri ini terdapat kebiasaan bahwa anak yang lebih tua harus selalu mengalah pada saudaranya yang lebih muda. Tampaknya hal itu sudah menjadi budaya. Tapi sebenarnya, adakah dasar logikanya dan dimana prinsip keadilannya?

Ada satu contoh nyata seperti berikut:
Ada seorang kakak beradik, kakak bernama Dita dan adik bernama Rafiq. Neneknya selaku pengasuh utama selalu memarahi Dita ketika Rafiq menangis. Tanpa mengetahui duduk persoalan serta siapa yang salah dan benar, si Nenek selalu membela si adik dan melimpahkan kesalahan pada kakaknya. “Kamu ini gimana sih? Sudah besar kok tidak mau mengalah ama adiknya.” Begitulah ucapan yang keluar dari mulut si Nenek. Terkadang dibumbui dengan cubitan pada kakaknya.
Apa yang terjadi selanjutnya? Dita menjadi anak yang tidak memiliki rasa percaya diri. Ia pun mulai membenci adiknya. Lama kelamaan Dita mulai banyak melawan atas ketidak adilan ini, dan yang terjadi kemudian adalah kedua bersaudara ini makin sering bertengkar. Sementara Rafiq yang selalu dibela bela menjadi makin egois dan makin berani menyakiti kakaknya, selalu merasa benar dan memberaontak. Sang nenek perlahan lahan menobatkan Radja Ketjil yang lalim di tengah keluarga ini.


Apa yang seharusnya kita lakukan?
Anak harus diajari untuk memahami nilai benar dan salah atas perbuatannya terlepas dari apakah dia lebih muda atau lebih tua. Nilai benar dan salah tidak mengenal konteks usia. Benar selalu benar dan salah selalu salah berapapun usia pelakunya.
Berlakulah adil. Ketahuilah informasi secara lengkap sebelum mengambil keputusan. Jelaskan nilai benar dan salah pada masing masing anak, buat aturan main yang jelas yang mudah dipahami oleh anak anak anda.


28. Menghukum secara fisik
Dalam kondisi emosi, kita cenderung sensitif oleh perilaku anak, dimulai dengan suara keras, dan kemudian meningkat menjadi tindakan fisik yang menyakiti anak.
Jika kita terbiasa dengan keadaan ini, kita telah mendidiknya menjadi anak yang kejam dan trengginas, suka menyakiti orang lain dan membangkang secara destruktif. Perhatikan jika mereka bergaul dengan teman sebayanya. Percaya atau tidak, anak akan meniru tindakan kita yang suka memukul. Anak yang suka memukul temannya pada umumnya adalah anak yang sering dipukuli di rumahnya.


Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Jangan pernah sekalipun menggunakan hukuman fisik kepada anak, mencubit, memukul, atau menampar bahkan ada juga yang pakai alat seperti cambuk, sabuk, rotan, atau sabetan.
Gunakanlah kata kata dan dialog, dan jika cara dialog tidak berhasil maka cobalah evaluasi diri kita. Temukanlah jenis kebiasaan yang keliru yang selama ini telah kita lakukan dan menyebabkan anak kita berperilaku seperti ini.


29. Menunda atau membatalkan hukuman
Kita semua tahu bahaya yang luar biasa dari merokok, mulai dari kanker, impotensi, sampai gangguan kehamilan dan janin. Tapi mengapa masih banyak yang tidak peduli dan tetap membandel untuk terus menjadi ahli hisap? Jelas karena akibat dari rokok itu terjadi kemudian dan bukan seketika itu juga.
Begitu juga dengan anak kita. Jika anda menjanjikan sebuah konsekuensi hukuman atau sanksi bila anak berperilaku buruk, jangan menunggu waktu yang terlalu lama, menunda, atau bahkan membatalkan karena alasan lupa atau kasihan.
Bila telah terjadi kesepakatan antara kita dan anak seperti tidak boleh minta minta dibelikan permen atau mainan dan ternyata anak mencoba coba untuk merengek, kita ingatkan kembali pada kepadanya tentang kesepakatan yang kita buat bersama. Anak biasanya akan berhenti merengek. Namun sayangnya kietika anak berhenti merengek , kita menganggap masalah susah selesai dan akhirnya kita menunda atau bahkan membatalkan hukuman entah karena lupa atau kasihan. Apa akibatnya? Anak akan mempunya anggapan bahwa kita hanya omong doang, maka mereka akan mempunya tendensi untuk melanggar kesepakatan karena hukuman tidak dilaksanakan.


Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Jila kita sudah mempunyai kesepakatan dan anak melanggarnya, maka sanksi harus dilaksanakan, jika kita kasihan, kita bisa mengurangi sanksinya, dan usahakan hukumanya jangan bersifat fisik, tapi seperti pengurangan bobot kesukaan mereka seperti jam bermain, menonton tv, ataupun bermain video game.


30. Terpancing Emosi
Jika ada keinginannya yang tidak terpenhi anak sering kali rewel atau merengak, menagis, berguling dsb, dengan tujuan memancing emosi kita yang apda kahirnya kita marah atau malah mengalah. Jika kita terpancing oleh emosi anak, anak akan merasa menang, dan merasa bisa megendalikan orang tuanya. Anak akan terus berusaha mengulanginya pada kesempatan lain dengan pancingan emosi yang lebih besar lagi.


Apa yang seharusnya kita lakukan?
Yang terbaik adalah diam, tidak bicara, dan tidak menanggapi. Jangan pedulikan ulah anak kita. Bila anak menangis katakan padanya bahwa tangisannya tidak akan mengubah keputusan kita. Bila anak tidak menangis tapi tetap berulah, kita katakan saja bahwa kita akan mempertimbangkan keputusan kita dengan catatan si anak tidak berulah lagi. Setelah pernyataan itu kita keluarkan, lakukan aksi diam. Cukup tatap dengan mata pada anak kita yang berulah, hingga ia berhenti berulah, Bila proses ini membutuhkan waktu lebih dari 30 menit tabahlah untuk melakukannya. Dalam proses ini kita jangan malu pada orang yang memperhatikan kita; dan jangan pula ada orang lain yang berusaha menolong anak kita yang sedang berulah tadi…
SEKALI KITA BERHASIL MEMBUAT ANAK KITA MENGALAH, MAKA SELANJUTNYA DIA TIDAK AKAN MENGULANGI UNTUK YANG KEDUA KALINYA.


31. Menghukum Anak Saat Kita Marah
Hal yang perlu kita perhatikan dan selalu ingat adalah jangan pernah memberikan sanksi atau hukuman apa pun pada anak ketika emosi kita sedang memuncak. Pada saat emosi kita sedang tinggi, apa pun yang keluar dari mulut kita, baik dalam bentuk kata2 maupun hukuman akan cenderung menyakiti dan menghakimi dan tidak menjadikan anak lebih baik. Kejadin tersebut akan membekas meski ia telah beranjak dewasa. Anak juga bisa mendendam pada orang tuanya karena sering mendapatkan perlakuan di luar batas.


Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Bila kita sedang sangat marah segeralah menjauh dari anak. Pilihlah cara yang tepat untuk bisa menurunkan amarah kita dengan segera.
Saat marah kita cenderung memberikan hukuman yang seberat2ya pada anak kita, dan hanya akan menimbulkan perlawanan baru yang lebih kuat dari anak kita, sementara tujuan pemberian sanksi adalah untuk menyadarkan anak supaya ia memahami perilaku buruknya. Setelah emosi reda, barulah kita memberikan hukuman yang mendidik dan tepat dengan konteks kesalahan yang diperbuat. Ingat, prinsip hukuman adalah untuk mendidik bukan menyakiti. Pilihlah bentuk sanksi atau hukuman yang mengurangi aktivitas yang disukainya, seperti mengurangi waktu main game, atau bermain sepeda.


32. Mengejek
Orang tua yang biasa menggoda anaknya, seringkali secara tidak sadar telah membuat anak menjadi kesal. Dan ketika anak memohon kepada kita untuk tidak menggodanya, kita malah semakin senang telah berhasil membuatnya kesal atau malu. Hal ini akan membangun ketidaksukaan anak pada kita dan yang sering terjadi anak tidak menghargai kita lagi. Mengapa? Karena ia menganggap kita juga seperti teman2nya yang suka menggodanya,


Apa yang seharusnya kita lakukan?
Jika ingin bercanda dengan anak kita, pilihlan materi bercanda yang tidak membuatnya malu atau yang merendahkan dirinya. Akan jauh lebih baik jika seolah-olah kitalah yang jadi badut untuk ditertawakan. Anak kita tetap aka n menghormati kita sesudah acara canda selesai. Jagalah batas2 dan hindari bercanda yang bisa membuat anak kesal apalagi malu. Bagimana caranya? Lihat ekspresi anak kita. Apakah kesal dan meminta kita segera menghentikannya? Bila ya, segeralah hentikan dan jika perlu meminta maaflah ayas kejadian yang baru terjadi. Katakan bahwa kita tidak bermaksud merendahkannya dan kita berjanji tidak akan mengulanginya lagi.


33. Menyindir
Terkadang karena saking marahnya orang tua sering mengungkapkannya dengan kata2 singkat yang pedas dengan maksud menyindir, seperti, “Tumben hari gini sudah pulang”, atau “Sering2 aja pulang malem!” atau”Memang kamu pikir Mama/Papa in satpam yang jaga pintu tiap malam?”.
Kebiasaan ini tidak akan membuat anak kita menyadari akan perilaku buruknya tapi malah sebaliknya akan mebuat ia semakin menjadi-jadi dan menjaga jarak dengan kita. Kita telah menyakiti hatinya dan membuatnya tidak ingin berkomunikasi dengan kita.


Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Katakanlah secara langsung apa yang kita inginkan dengan kalimat yang tidak menyinggung perasaan, memojokkan bahkan menyakiti hatinya. Katakan saja, “Sayang, Papa/Mama khawatir akan keselamatan kamu lho kalo kamu pulang terlalu malam”. Dan sejenisnya.


34. Memberi julukan yang buruk
Kebiasaan memberikan julukan yang buruk pada anak bisa mengakibatkan rasa rendah diri, tidak percaya diri/mimder, kebencian juga perlawanan. Adakalanya anak ingin membuktikan kehebatan julukan atau gelar tersebut pada orang tuanya.

Solusinya
Mengganti julukan buruk dengan yang baik, seperti, anak baik, anak hebat, anak bijaksana. Jika tidak bisa menemukannya cukup dengan panggil dengan nama kesukaannya saja.


35. Mengumpan Anak yang Rewel
Pada saat anak marah, merengek atau menangis, meminta sesuatu dengan memaksa, kita biasanya mengalihkan perhatiannya kepada hal atau barang lain. Hal ini dimaksudkan supaya anak tidak merengek lagi. Namun yang terjadi malah sebaliknya, rengekan anak semakin menjadi-jadi. Contohnya, anak menangis karena ia minta dibelikan mainan, Kemusian kita berusaha membuatnya diam dengan berusaha mengalihkan perhatiannya seperi, ” Tuh lihat tuh ada kakak pake baju warna apa tuh…”atau” Lihat ini lihat, gambar apa ya lucu banget?”
Ingatlah selalu, pada saat anak kita sedang fokus pada apa yang diinginkannya, ia akan memancing emosi kita dan emosinya sendiri akan menjadi sensitif. Anak kita pada umumnya adalah anak yang cerdas. ia tidak ingin diakihkan ke hal lain jika masalah ini belum ada kata sepakat penyelesaiannya. Semakin kita berusaha mengalihkan ke hal lain, semakin marah lah anak kita.


Apa yang sebaiknya dilakukan?
Selesaikan apa yang diinginkan oleh anak kita dengan membicarakannya dan membuat kesepakatan di tempat, jika kita belum sempat membuat kesepakatan di rumah. Katakan secara langsung apa yang kita inginkan terhadap permintaan anak tesebut, seperti “Papa/Mama belum bisa membelikan mainan itu saat ini. Jika kamu mau harus menabung lebih dahulu. Nanti Papa/Mama ajari cara menabung. Bila kamu terus merengak kita tidak jadi jalan-jalan dan langsung pulang.” Jika kalimat ini yang kita katakan dan anak kita tetap merengek, segeralah kita pulang meski urusan belanja belum selesai, Untuk urusan belanja kita masih bisa menundanya. Tapi jangan sekali-kali menunda dalam mendidik anak.


36. Televisi sebagai agen Pendidikan Anak
Perilaku anak terbentuk karena 4 hal:
  • Berdasar kepada siapa yang lebih dulu mengajarkan kepadanya: kita atau TV?
  • Oleh siapa yang dia percaya: apakah anak percaya pada kata2 kita atau ketepatan wakyu program2 TV?
  • Oleh siapa yang meyampaikannya lebih menyenangkan: apakah kita menasehatinya dengan cara menyenangkan atau program2 TV yang lebih menyenangkan?
  • Oleh siapa yang sering menemaninya: kita atau TV?
Apa yang seharusnya kita lakukan?
  • Bangun komunikasi dan kedekatan dengan mengevaluasi 4 hal tersebut yang menjadi faktor pembentuk perilaku anak kita.
  • Menggantinya dengan kegiatan di rumah atau di luar rumah yang padat bagi anak2nya.
  • Gantilah program TV dengan film2 pengetahuan yang lebih mendidik dan menantang mulai dari kartun hingga CD dalam bentuk permainan edukatif.

37. Mengajari Anak untuk Membalas
Sebagian anak ada yang memiliki kecenderungan suka memukul dan sebagian lagi menjadi objek penderita dengan lebih banyak menerima pukulan dari rekan sebayanya. Sebagian orang tua biasanya tidak sabar melihat anak kita disakiti dan memprovokasi anak kita unutuk membalasnya. Hal ini secara tidak langsung mengajari anak balas dendam. Sebab pada saat itu emosi anak sedang sensitif dan apa yang kita ajarkan saat itu akan membekas. Jangan kaget bila anak kita sering membalas atau membalikkan apa yang kita sampaikan kepadanya.
 
Apa yang sebaiknya kita lakukan?:
  • Mengajarkan anak untuk menghindari teman-teman yang suka menyakiti.
  • Menyampaikan pada orang tua yang bersangkutan bahwa anak kita sering mendapat perlakuan buruk dari anaknya.
  • Ajaklah orang tua anak yang suka memukul untuk mengikuti program parenting baik di radio atau media lainnya.
 
 
Islamedia